Monday, November 11, 2013

Pendekatan Belajar Contextual Teaching Learning

 Pengertian Pendekatan  Contextual Teaching Learning
Seperti yang sudah dijelaskan sekilas pada bab  terdahulu bahwa pendekatan kontekstual adalah pendekatan yang memungkinkan dikembangkannya strategi belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Pembelajaran kontekstual (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu siswa menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam
bentuk siswa belajar dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kepada
siswa.
Pemanduan materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa di dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang kuat dan mendalam sehingga siswa kaya akan pemahaman masalah dan cara penyelesaiannya.
Dalam hal ini siswa perlu mengerti makna belajar dan manfaatnya bagi kehidupan dan bagaimana cara mencapainya. Mereka harus sadar bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya. Sehingga mereka dapat menempatkan diri sendiri untuk membekali diri di dalam hidupnya. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya mencapainya. Dalam upaya ini, mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
Pembelajaran kontekstual/CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual yang efektif, yaitu konstruktifisme (constructivism), bertanya (question), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), dan penilaian sebenarnya (authentic assesment)[1]
Di kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Tugas guru lebih banyak berkaitan dengan strategi daripada memberi informasi, mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas.
Ada lima elemen yang belajar yang harus diperhatikan dalam praktik pembelajaran kontekstual. Adapun kelima elemen tersebut adalah sebagai berikut:
a)      Pengatifan pengetahuan yang sudah ada ( Activating Knowladge)
b)      Pemerolehan pengetahuan baru ( Acquiring Knowladge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dahulu, kemudian memerhatikan detilnya.
c)      Pemahaman pengetahuan ( Understanding Knowladge ) yaitu dengan cara menyusun ( a ) konsep sementara (hipotesis), (b) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan ( validasi) dan atas tanggapan itu, (c) konsep tersebut direvisi dan dikembangkan.
d)     Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman tersebut.
e)      Melakukan refleksi (Reflecting Knowladge ) terdapat strategi pengembgang pengetahuna tersebut.[2]
Pengetahuan dan keterampilan dapat ditemukan oleh siswa, bukan dari apa kata guru. Pendekatan kontekstual merupakan strategi pembelajaran yang mendekatkan pengetahuan yang diperoleh siswa dengan pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan kontekstual mempunyai tujuh komponen yang terintegrasi dalam suatu rencana pembelajaran.
Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal, kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan , kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi. Untuk itu diperlukan strategi belajar yang baru yang lebih memberdayakan siswa. Melalui landasan filosofis konstruktivisme, CTL dipromosikan menjadi alternative strategi belajar yang baru. Melalui pendekatan CTL, siswa diharapkan belajar melalui ‘mengalami” bukan “menghafal”.[3]. Adapun beberapa komponen yang berkaitan dengan CTL adalah : Konstruktivisme, menemukan (inquiry), bertanya (questioning), permodelan (modeling), masyarakat belajar (learning community), refleksi (reflection) dan penilaian yang sebenarnya ( autentics assessment). Adapun untuk lebih jelas pembahasan tentang ketujuh  komponen tersebut seperti pada pembahasan penuilis berikut ini.


1.                   Konstruktivisme

Teori belajar tentang konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus membangun pengetahuan di dalam benak mereka sendiri. Setiap pengetahuan dapat dikuasai dengan baik jika siswa secara aktif mengkontruksi pengetahuannya
di dalam pikirannya. Konstruktivisme merupakan landasan berpikir atau filosofis pendekatan kontekstual. Kontekstual yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Pengetahuan bukan seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil atau diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Oleh karena itu pengetahuan menjadi proses mengkontruksi bukan menerima pengetahuan. Dalam pandangan konstruktivisme, strategi lebih diutamakan daripada seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:

a.       menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa,
b.      memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri,
c.       menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

2.                  Menemukan (inquiry)

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil menemukan sendiri. Guru selalu merangsang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan apapun materi yang diajukan. Siklus inquiry yaitu merumuskan masalah, observasi, bertanya, mengajukan dugaan (hipotesis), pengumpulan data dan penyimpulan.
Adapun langkah-langkah kegitan belajar dalam kegiatn menemukan           ( inquiri) adalah sbb :
a.    Merumuskan masalah.
b.    Mengamati atau melakukan observasi.
c.    Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar laporan, bagan, tabel, atau karya lainya.
d.   Mengomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiensi yang lain.


3.                  Bertanya (Questioning)

Questioning atau bertanya adalah salah satu strategi pembentukan pendekatan kontekstual. Bagi guru, bertanya dipandang sebagai kegiatan untuk mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, membimbing dan menilai kemampuan siswa. Bagi siswa, bertanya merupakan kegiatan penting dalam melaksanakan pembelajaran berbasis inquiry.
Dalam sebuah pembelajaran yang produtif, kegiatan bertanya berguna untuk :
a.    Menggali informasi baik administrasi maupun akademis.
b.    Mengecek pemahaman siswa.
c.    Membangkitkan respons kepada siswa.
d.   Mengetahui sejauh mana keingintauhan siswa.
e.    Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa.
f.     Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa.
g.    Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru.
h.    Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa.
i.      Untuk menyegarkan kembali pengetahuan.

4.                  Permodelan (Modeling)

Modeling atau permodelan adalah kegiatan pemberian model dengan tujuan untuk membahasakan gagasan yang kita pikirkan, mendemonstrasikan bagaimana kita menginginkan para siswa untuk belajar atau melakukan sesuatu yang kita inginkan. Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu selalu ada model yang dapat dicontoh dan diamati siswa. Guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar” misalnya guru memberi contoh tentang cara belajar sesuatu, sebelum siswa melaksanakan tugas.
Dalam pendekatan CTL guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirangsang dengan melibatkan siswa-siswa ditunjuk untuk memberi contoh temannya mendemonstrasikan keterampilan.

5.                  Masyarakat Belajar (Learning Community)

Konsep Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing dengan teman, antar kelompok, antara yang tahu dengan yang belum tahu. Dalam kelas kontekstual guru selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok yang anggotanya heterogen. Praktik motode ini dalam pembelajaran terwujud dalam :
a.    Pembentukan kelompok kecil
b.    Pembentukan kelompok besar.
c.    Mendatangkan ahli ke kelas.
d.   Bekerja dengan kelas sederajat.
e.    Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya.
f.     Belajar dengan masyarakat.

6.                  Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan. Siswa menyimpan apa yang telah dipelajari sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengatahuan yang baru diterima. Implementasi pada akhir pembelajaran guru memberi waktu sebentar agar siswa melakukan refleksi berupa:
a.       peryataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu,
b.      catatan atau jurnal di buku siswa,
c.       kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu,
d.      diskusi,
e.       hasil kerja.

7.                  Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assesment)

Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang dapat memberi gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran itu perlu diperoleh guru agar dapat memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar. Apabila data yang dikumpulkan guru untuk mengidentifikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, maka guru segera mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar.
Penilaian dilakukan bersama secara terintegrasi dari kegiatan pembelajaran. Data yang dikumpulkan harus dari kegiatan yang nyata yang dikerjakan siswa pada proses pembelajaran. Jika guru ingin mengetahui perkembangan siswa, maka guru harus mengumpulkan data dari kegiatan nyata saat siswa melakukan kegiatan atau percobaan. Penilaian autentik didasarkan pada pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa. Karakteristik penilaian sebenarnya dilakukan sebagai berikut.
a.       Dilaksanakan selama dan sesudah pembelajaran
b.      Dapat digunakan untuk formatif atau sumatif
c.       Yang diukur adalah keterampilan dan performannya bukan mengingat fakta
d.      Berkesinambungan
e.       Terintegrasi
f.       Dapat digunakan sebagai feed back[4]
Penerapan pendekatan kontekstual dalam kelas cukup mudah, secara garis besar Yatim riyanto  menjelaskan sebagai berikut :
a.         Kembangkan pikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstrusikan sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru.
b.         Laksanakanlah sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua objek.
c.         Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
d.        Ciptakan masyarakat belajar
e.         Hadirkanlah model sebagai contoh pembelajaran
f.          Lakukanlah refleksi di akhir pertemuan
g.         Lakukan penilaian sebenarnya dengan berbagai cara.[5]
Yatim Priyanto juga memberi gambaran karakteristik pembelajaran berbasis Contextual Teaching And Learning ( CTL ). Adapun karakteristi tersebut adalah seperti di bawah ini :

a.         Kerja sama
b.         Saling menunjang
c.         Menyenangjkan, tidak membosankan
d.        Belajar dengan gairah
e.         Pembelajaran terinteraksi
f.          Menggunakan berbagai sumber
g.         Siswa aktif
h.         Sharing dengan teman
i.           Siswa kritis, guru kreatif
j.           Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, dan lain-lain.
k.         Laporan kepada orang tua bukan hanya raport tetapi hasil kerja siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan lain-lain.[6]
Dalam penyusunan rencana pembelajaran berbasis kontekstual, Yatim Riyanto memberikan saran pokok bagi guru. Adapun saran tersebut adalah seperti di bawah ini:
a.         Nyatakan  kegiatan utama pembelajaran, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara kompetensi dasar, materi pokok, dan indicator pencapaian hasil belajar.
b.         Nyatakan tujuan umum pembelajarannya.
c.         Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu.
d.        Buatlah scenario tahap demi tahap kegiatan siswa.
e.         Nyatakan authentic assesment-nya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran.
Untuk mewujudkan pendekatan CTL di dalam kelas diperlukan strategi pembelajaran. Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Abin Syamsuddin Makmun, mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :
  1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
  2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
d.      Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.[7]
Adapun strategi  Pembelajaran yang relevan dengan pendekatam pembelaran CTL  adalah sebagai berikut :
a.       CBSA
b.      Pendekatan Proses
c.       Life Skill Education
d.      Authentic Instruction
e.       Inquiry based Leraning
f.        Cooperative Learning
g.      Service Learning[8]





[1] Departemen Pendidikan Nasional. Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Jakarta. Pusat Kurikulum, Balitbang Diknas.2002) hal. 10


[2] Yatim Riyanto, Paradigma baru …,, hal. 165


[3] Yatim Riyanto, Paradigma baru …, hal. 161



[4] Nurhadi. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) dan Penerapannya dalam KBK.( Malang: Universitas Negeri Malang Press. 2003) hal. 23-2

[5] Yatim Riyanto, Paradigma baru…, hal. 16


[6] Ibid…, hal. 176

[7] Abin Syamsuddin Makmun, Psikologi Pendidikan (Bandung: Rosda Karya Remaja, 2003) hal. 78

[8] Yatim Riyanto, Paradigma baru…, hal. 164

Sunday, December 30, 2012

IMPLEMENTASI PELAJARAN AL-QUR’AN HADITH


IMPLIMENTASI PELAJARAN AL-QUR’AN HADITH
Oleh: Zaman Hurri

A.    Pengertian Al-Qur’an Hadith
            Secara Bahasa Qara’a mempunyai arti: mengumpulkan, atau menghimpun menjadi satu Kata Qur’an n dan Qira’ah keduanya merupakan masdar (infinitif) diambil dari kata kerja lampau (Fi’il Madhi) yaitu. Qara’a- Qiraatan- Quranan.[1]

            Kata Qur’anah pada ayat di atas berarti qiraatuhu yaitu bacaannya atau cara membacanya. Terdapat berbagai macam definisi Qur’an, diantaranya definisi menurut Abdul Wahhab Khalaf, yaitu: Firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Saw dengan peerntara Jibril dalam bahasa Arab. Dan, menjadi undang-undang bagi manusia, memberi petunjuk kepada mereka, dan menjadi sarana untuk melakukan pendekatan diri dan ibadah kepada Allah. Ia terhimpun dalam mushaf, dimulai dari surat Al- Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas, disampaikan kepada kita secara mutawatir dari generasi ke generasi, baik secara lisan maupun tulisan, serta terjaga dari perubahan dan pergantian.
            Selanjutnya al-Qur'an secara istilah adalah “Firman Allah SWT yang menjadi mu’jizat abadi kepada Rasulullah yang tidak mungkin bisa ditandingi oleh manusia, diturunkan ke dalam hati Rasulullah SAW, diturunkan ke generasi berikutnya secara mutawatir, ketika dibaca bernilai ibadah dan berpahala besar”.[2]
            Al-Qur'an merupakan wahyu Allah dan sekaligus sebagai pedoman atau panduan hidup bagi umat manusia.[3] Banyak ilmu yang lahir dari Al-Qur'an, baik itu yang berhubungan langsung dengannya seperti Ulumul Qur'an, Ilmu Tafsir dan yang lainnya, atau tidak berhubungan langsung namun terinspirasi dari Al-Qur'an seperti ilmu alam, ilmu ekonomi dan yang lainnya. Al-Qur'an menekankan pada kebutuhan manusia untuk mendengar, menyadari, merefleksikan, menghayati, dan memahami. Maka, mau tidak mau Al-Qur'an harus mampu menjawab berbagai problematika yang terjadi dalam masyarakat.[4]
            Selanjutnya Istilah Hadits telah digunakan secara luas dalam studi keislaman untuk merujuk kepada teladan dan otoritas Nabi saw atau sumber kedua hukum Islam setelah al-Qur’an. Meskipun begitu, pengertian kedua istilah tersebut tidaklah serta merta sudah jelas dan dapat dipahami dengan mudah. Para ulama dari masing-masing disiplin ilmu menggunakan istilah tersebut didasarkan pada sudut pandang yang berbeda sehingga mengkonskuensikan munculnya rumusan pengertian keduanya secara berbeda pula.
            Kata hadits merupakan isim (kata benda) yang secara bahasa berarti kisah, cerita, pembicaraan, percakapan atau komunikasi baik verbal maupun lewat tulisan. Bentuk jamak dari hadits yang lebih populer di kalangan ulama muhadditsin adalah ahadits,  dibandingkan bentuk lainnya yaitu hutsdan atau hitsdan.[5]  Masyarakat Arab di zaman Jahiliyyah telah menggunakan kata hadits ini dengan makna “pembicaraan”, hal itu bisa dilihat dari kebiasaan mereka untuk menyatakan  “hari-hari mereka yang terkenal” dengan sebutan ahadits.[6]
Jadi Al-Qur’an Hdith yang dimaksudkan dalam pembahasan ini adalah bagian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada Madrasah Ibtidaiyah yang dimaksudkan untuk memberikan motivasi, bimbingan, pemahaman, kemampuan dan penghayatan terhadap isi yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadith sehingga dapat diwujudkan dalam perilaku sehari-hari sebagai perwujudan iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Saturday, December 29, 2012

SUPERVISI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR


SUPERVISI PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

TUGAS :

MATA KULIAH : SUPERVISI PENDIDIKAN

 

OLEH :

KELOMPOK  V

 ADI WARDANA

ZAMAN HURRI

SAIFUL ARDI


1. Pengertian Supervisi
Supervisi pendidikan, peningkatan kualitas, guru, instrumen. Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Isi . Pada Rumawi V sub B disebutkan bahwa: 1. Supervisi proses pembelajaran dilakukan pada tahap  perencanaan, pelaksanaan dan penilaian hasil pembelajaran. 2. Supervisi pembelajaran diselenggarakan dengan cara pemberian contoh, diskusi, pelatihan dan konsultasi. 3. Kegiatan supervisi dilakukan oleh kepala   dan pengawas satuan pendidikan.
Permendiknas RI Nomor 13 Tahun 2007, tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, bahwa pada kompetensi Supervisi Kepala sekolah yaitu :
1. Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka  peningkatan  profesional guru. 2. Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan  menggunakan pendekatan dan tehnik supervisi yang tepat. 3. Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
 Dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, dinyatakan bahwa esensi otonomi daerah adalah mendekatkan masyarakat pada akses perumusan kebijakan pengambilan keputusan dan perencanaan pembangunan di daerahnya. Berlandaskan otonomi daerah, pemerintah daerah, DPRD, dan masyarakat mempunyai kewenangan yang lebih besar dalam menyejahterakan dan menyiapkan masyarakatnya untuk bersaing dalam perdagangan global (Djam’an, 1999). Dalam otonomi daerah, dapat dikatakan bahwa ada kebebasan daerah untuk mengatur dan menyusun anggaran rumah tangganya. Hal ini juga berlaku dalam lembaga pendidikan.

Sunday, December 23, 2012

Hubungan Manajemen Stratejik Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan



HUBUNGAN MANJEMEN STRATEJIK DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

Oleh:
Zaman Hurri
NIM. 1009200050069

A. Latar Belakang Masalah
Pembaharuan  yang dasar  telah diterapkan pada  pengelolaan pendidikan di Indonesia. Hal ini telah ditetapkan  dalam undang undang Sistem pendidian Nasional Nomor 20 tahun 2003  Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 1 dan 2 yaitu:
“Pendidikan adalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman”( UU Nomor 20 Tahun 2003)

Dimana dalam Undang-undang tersebut menegaskan bahwa bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana dalam rangka untuk mewujud kegiatan belajar mengajar yang aktif untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang diharapkan.
Hasil pendidikan yang diharapkan adalah mampu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat untuk memperoleh pelayanan yang paripurna dalam berbagai bidang. Dengan kata lain, pelayanan yang prima yang dapat memenuhi dan memuaskan  harapan masyarakat merupakan hasil yang ingin dicapai dalam pengelolaan pendidikan.
Untuk memenuhi keinginan masyarakat tersebut tentu harus dilayani dengan peningkatan kualitas hasil dari proses pengelolaan pendidikan atau yang dikenal dengan mutu pendidikan. Menurut Komariah ( 2005 : 8 ), mutu pendidikan adalah kualitas produk yang dihasilkan lembaga pendidikan atau sekolah. Yaitu dapat diidentifikasi dari banyaknya siswa yang memiliki prestasi, baik prestasi akademik maupun yang lain, serta lulusannya relevan dengan tujuan.
Merealisasi harapan  tersebut perlu adanya pengelolaan pendidikan tersebut secara terencana, efesien, efektif dan inovatif. Pengelolan pendidikan tidak hanya mencakup pengelolaan kegiatan proses belajar mengajar yang terjadi di sekolah, tetapi lebih jauh mencakup aspek manajemen pengelolaan pendidikan.
Salah satu alternatif adalah penerapan manajemen stratejik dalam pengelolaan pendidikan untuk mencapai mutu pendidikan yang diharapkan. Menurut Gunawan ( 2009) berpendapat bahwa “ manajemen Stratejik mampu mengkombinasikan pola pikir Strategi dalam manajemen, karena segala sesuatu yang Strategi tidak hanya berhenti pada proses perencanaan saja tetapi juga dilanjutkan pada tingkat operasional dan pengawasan”
Jadi untuk melihat  hubungan manajemen Stratejik dalam meningkatkan mutu pendidikan secara mendalam penulis akan membahas makalah dengan judul : Hubungan Manjemen Stratejik Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan.