Showing posts with label Ulasan. Show all posts
Showing posts with label Ulasan. Show all posts

Friday, February 19, 2021

LEVEL KESUKARAN ( KOGNITIVE) PENYUSUNAN SOAL

 

LEVEL KESUKARAN ( KOGNITIVE) PENYUSUNAN SOAL



 

Penilaian merupakan salah satu kegiatan yang harus dilakukan oleh guru setelah kegiatan pembelajaran dilakukan. Penilaian ini dapat dilakukan setelah penyampaian  materi, bab atau pun satu semester. Penilain ini dapat berbentuk formatif ataupun sumatif. Penilaian formatif merupakan penilaian  yang dilakukan setiap akhir pembahasan, satu bab atau topik bahasan. Sedangkan Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu. Di dalam penilaian sumatif mencakup lebih dari satu pokok bahasan yang dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit pembelajaran ke unit pembelajaran berikutnya.[1]

Penilaian yang dilakukan oleh guru berupa penyusunan soal-soal berisi materi-materi yang telah diberikan yang nantinya akan diberikan kepada siswa. Dalam penyusunan soal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru yang pertama guru harus memiliki kisi-kisi soal. Penyusunan kisi-kisi soal, yang harus diperhatikan guru adalah guru harus memperhatikan KD dan indikator. Selanjutnya guru harus memperhatikan Level kognitif sebagai tuntutan kurikulum yang harus dicapai oleh siswa setelah pembelajaran. Dalam penyusunan soal seorang guru juga harus berpedoman pada taksonomi ini sebagai pedoman tingkat kesukaran soal yang dinamakan dengan Level ranah Soal yang umumnya disingkat dengan L1, L2 dan L3.

Level kognitif, secara sederhana dapat dipahami merupakan tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang disusun dalam tingkat kemampuan pemahaman siswa berdasarkan taksonomi Bloom. Menurut Wikipedia taksonomi bloom adalah  Taksonomi merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hierarkinya. Menurut Bloom tujuan pendidikan dibagi ke dalam tiga domain, yaitu:

1.     Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.

2.     Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minatsikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.

3.     Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.[2]

Dalam hal ranah cognitive, Bloom menyusun ranah dalam 3 level utama, yaitu level 1 (knowing), level 2 (applying), dan level 3 (reasoning), Setiap level memiliki level kognitif sesuai dengan taksonomi Bloom yang dijabarkan dalam bentuk ranah C1 sampai C6. Pada setiap level C1 sampai C6 tersebut terdapat kata kerja operasional (KKO) yang bisa digunakan oleh guru untuk membuat indikator soal sehingga tergambar level kognitif soal tersebut.

 

Kata-kata Operasional

Level 1 (knowing)

Level ini memuat didalamnya  berupa ranah kemampuan kognitif  yang dapat dikuasai siswa berupa C1 (mengetahui) dan C2 (memahami). Adapun Kata kerja operasional yang bisa digunakan dalam indikator soal untuk C1 di antaranya mengingat kembali, membaca, menyebutkan, menyusun daftar, menggaris bawahi, menjodohkan, memilih, menyatakan, dan mendefinisikan. Level kognitif selanjutnya merupakan tingkat yang lebih dari sekedar mengetahui, level kognitif ini dikenal dengan istilah C2 (pemahaman). Kata kerja operasional yang digunakan untuk menggambarkan level kognitif pemahaman di antaranya memperkirakan, mengkategorikan, menjelaskan, membedakan, menyimpulkan, mengklasifikasikan, menerangkan, menggambarkan, menginterpretasikan, dan lainnya. Dalam penyusunan soal pada L1 ini guru harus mempedomani kriteria level 1 dengan mencerminkan pada kata-kata operasional pada C1 dan C2.

 

Level 2 (applying)

Di level ini siswa dihadapkan untuk menguasai satu level kognitif yang harus dikuasai, yaitu menerapkan (C3). Level kognitif ini tentu saja lebih dari sekedar mengetahui dan memahami, namun tuntutannya siswa harus bisa menerapkan. Adapun kata-kata operasional yang mencakup pada ranah C3 adalah: antaranya mengimplementasikan, menggunakan, menentukan, memproseskan, menghitung, memperagakan, menghubungkan, membuktikan, menemukan, menyesuaikan dan lain-lain. Guru dalam membuat soal harus mempedomani kata-kata opersional yang ada dalam ranah C3.

 

Level 3 (reasoning)

 

Level 3 ini, siswa dituntut untuk menguasai ranah penalaran dan logika. Ranah kognitif pada level ini terdiri dari 3 level  yaitu C4 (analisis), C5 (evaluasi), dan C6 (sintesis). Level kognitif pada level 3 ini sudah masuk pada kategori HOTS, di mana dalam penyelesaian soal-soalnya memerlukan beberapa tahapan berpikir. Kata kerja operasional untuk level kognitif C4 di antaranya mengorganisasikan, merinci, menelaah, meneteksi, mengaitkan, membandingkan, menyeleksi, memilih, membagi, menguraikan, dan lainnya



[1] Dvcodes.com, Perbedaan Penilaian formatif dan Sumatif.(https://dvcodes.com/perbedaan-penilaian-formatif-dan-sumatif-beserta-contohnya dikutip pada tanggal 19 Februari 2021)

[2] Wikipedia, taksonomi Bloom, (https://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi_Bloom diaksese pada tanggal 19 Februari 2021)

Wednesday, February 17, 2021

Pengertian Tugas Terstruktur dalam Pembelajaran

 Pengertian Tugas Terstruktur dalam Pembelajaran

( Hasmadianti hasan, S,Pd)



Pemberian tugas adalah merupakan suatu teknik mengajar yang diterapkan dalam proses belajar mengajar, yang biasa disebut dengan teknik pemberian tugas. Biasanya guru memberikan tugas itu sebagai pekerjaan rumah. Akan tetapi sebenarnya ada perbedaan antara pekerjaan rumah dan pemberian tugas seperti halnya yang dikemukakan : Roestiyah dalam bukunya “Didaktik Metodik” yang mengatakan : “ Untuk pekerjaan rumah, guru menyuruh membaca dari buku dirumah, dua hari lagi memberikan pertanyaan dikelas. Tetapi dalam pemberian tugas guru menyuruh membaca. Juga  menambah tugas ,cari buku lain untuk membedakan, pelajari keadaan orangnya”[1].

            Dalam buku lainnya yang berjudul Startegi Belajar Mengajar  hal.132, Roestiyah mengatakan teknik pemberian tugas memiliki tujuan agar siswa menghasilkan hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas, sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu menjadi lebih terintegrasi.[2]

            Dengan pengertian lain tugas ini jauh lebih luas dari pekerjaan rumah karena metode pemberian tugas diberikan dari guru kepada siswa untuk diselesaikan dan dipertanggung jawabkan. Siswa dapat menyelesaikan di sekolah, atau dirumah atau di tempat lain yang kiranya dapat menunjang penyelesaian tugas tersebut, baik secara individu atau kelompok.

            Tujuannya untuk melatih atau menunjang terhadap materi yang diberikan dalam kegiatan intra kurikuler, juga melatih tanggung jawab akan tugas yang diberikan. Lingkup kegiatannya adalah tugas guru bidang studi di luar jam pelajaran tatap muka. Tugas ditetapkan batas waktunya, dikumpulkan, diperiksa, dinilai, dan dibahas tentang hasilnya.

            Teknik pemberian tugas ini dalam pelaksanaannya memiliki beberapa kelebihan disamping juga mempunyai beberapa kelemahan. Adapun kelebihan metode pemberian tugas  diantaranya adalah Metode ini merupakan aplikasi pengajaran modern disebut juga azas aktivitas dalam mengajar yaitu guru mengajar harus merangsang siswa agar melakukan berbagai aktivitas sehubungan dengan apa yang dipelajari, sehingga :

1.      Dapat memupuk rasa percaya diri sendiri

2.      Dapat membina kebiasaan siswa untuk mencari, mengolah menginformasikan dan dan mengkomunikasikan sendiri.

3.      Dapat mendorong belajar, sehingga tidak cepat bosan

4.      Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa

5.      Dapat mengembangkan kreativitas siswa

6.      Dapat mengembangkan pola berfikir dan ketrampilan anak[3].

 

Selanjutnya, Tugas terstruktur adalah salah satu bentuk kegiatan kurikuler sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap proses kegiatan pasti ada arah tujuan yang hendak dicapai, demikian halnya belajar mengajar yang dilakukan guru. Guru diharapkan memiliki strategi tertentu dalam melaksanakan pembelajaran, agar tujuan dapat dicapai secara efektif dan efisien.

 

1.      Tujuan dan Lingkup Tugas Tersetruktur

Tugas terstruktur dapat diberikan kepada siswa di luar proses pembelajaran. Tujuan pemberian tugas terstruktur adalah untuk menunjang pelaksanaan program intrakurikuler. Tujuan tersebut juga agar siswa dapat lebih menghayati bahan-bahan pelajaran yang telah dipelajarinya serta melatih siswa untuk melaksanakan tugas secara bertanggung jawab.

Ruang lingkup kegiatan tugas terstruktur dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat), sebagai berikut:

a.       Guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di luar jam pelajaran tatap muka (di rumah)

b.      Tugas diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu separoh dari jam tatap muka suatu pokok bahasan.

c.       Siswa mengerjakan tugas tersebut secara individu maupun kelompok.

d.      Pengumpulan tugas sekaligus dilakukan pemeriksaan, dan penilaian.

 

2.      Azas Pelaksanaan

Kegiatan terstruktur dapat dilaksanakan di rumah, di perpustakaan atau di tempat lain. Bentuknya juga dapat disesuaikan dengan materi pokok bahasan yang sedang dipelajari. Misalnya dapat berupa membuat laporan, mengarang, mengerjakan soal-soal, membaca buku, dan sebagainya.

Pelaksanaan kegiatan tugas terstruktur harus memperhatikan azas-azas sebagai berikut:

a.     Menunjang langsung kegiatan intrakurikuler.

b.    Hubungannya jelas dengan pokok bahasan yang diajarkan.

c.     Menunjang kebutuhan siswa memanfaatkan ilmunya untuk menghadapi tantangan dalam kehidupannya.

d.    Tidak menjadi beban yang berlebihan bagi siswa yang dapat mengakibatkan gangguan fisik ataupun psikologis.

e.     Tidak menimbulkan beban pembiayaan yang memberatkan siswa maupun orang tua siswa.

f.     Perlu pengadministrasian yang baik dan teratur.

Jadi pemberian tugas terstruktur yang tidak berdasarkan azas-azas tersebut dapat berakibat pada beban fisik maupun psikologis pada siswa, oleh sebab itu guru harus mempertimbangkan pelaksanaannya secara baik.

 

3.      Bentuk Pelaksanaan Tugas Terstruktur

Kegiatan tugas terstruktur dapat dilaksanakan secara perorangan maupun kelompok. Kerja kelompok mempunyai arti yang sangat penting untuk mengembangkan sikap bergotong-royong, tenggang rasa, persaingan sehat, kerjasama dalam kelompok dan kemampuan memimpin.

Jenis tugas hendaknya juga disesuaikan dengan jumlah anggota kelompok, sehingga tugas benar-benar dapat dilakukan secara kelompok. Jadi tugas yang tidak seharusnya diberikan secara kelompok dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan baru bagi siswa, sedangkan tugas perorangan mempunyai makna untuk mengembangkan sikap mandiri dan memungkinkan penyesuaian kegiatan belajar dan minat serta kemampuan siswa.

 

4.      Langkah-langkah Pelaksanaan

Pelaksanaan tugas terstruktur meliputi tiga kegiatan pokok, yaitu: persiapan, pelaksanaan, dan penilaian. Persiapan dilakukan oleh guru dengan cara menyiapkan, merencanakan bahan atau materi yang akan ditugaskan kepada siswa. Kemudian menginformasikan tugas tersebut kepada siswa disertai penjelasan yang menyangkut pelaksanaan tugas tersebut. Pelaksanaan dilakukan oleh siswa, yaitu siswa mulai mengerjakan tugas tersebut secara perorangan maupun kelompok seperti yang dikehendaki guru. Peyelesaian tugas tersebut dapat dalam satu kali tatap muka (1 minggu) atau dalam beberapa kali tatap muka (beberapa minggu).

Penilaian kegiatan terstruktur dilakukan terutama terhadap hasil kegiatan terstruktur. Penilaian kegiatan terstruktur dilakukan setelah siswa selesai mengerjakan tugas terstruktur, dan hasil penilaian tersebut dipertimbangkan dalam menentukan nilai rapor.[4]

 



[1] Roestiyah, Didaktik Metodik.( Jakarta : Raja Grafindo  , 2002) Hal: 75

 

[2] Roestiyah, Startegi Belajar Mengajar .(Bandung;Wacana Prima; 2004) Hal: 132

 

[3] Ibid. Hal. 133

[4] Zaifbio.Wordpress, Pengemebangan Model pembelajaran,(online)(2011)...,

 

Tuesday, February 16, 2021

PENGERTIAN JAMUR DAN KLASIFIKASI

 

PENGERTIAN JAMUR DAN KLASIFIKASI

( HASMADIANTI HASAN. S.Pd)



A.                Pengertia Jamur

Dalam istilah umum jamur biasa diartikan dengan cendawan. Yaitu yang sering terdapat atau tumbuh pada pohon-pohon kayu yang telah mati dan busuk, dan bisa juga tumbuh pada makanan-makanan yang telah basi atau tidak baik lagi. Dalam istilah ilmiah dikenal dengan fungi. Dalam situs Adipedia, jamur diartikan sebagai tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof, tipe sel: sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada pula dengan cara generatif.[1]

Menurut kamus lengkap Biologi Karangan Arman Sujana mengartikan jamur dengan sangat sederhana yaitu suatu tumbuhan darat yang biasa hidup di tempat yang lembab atau berair.[2] Selanjutnya ensiklopedia digital Wikipedia mengartikan jamur atau cendawan adalah tumbuhan yang  tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari benang-benang yang disebut hifa. Hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada juga dengan cara generatif. Jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya untuk memperoleh makanannya.[3]

Dari kedua pengertian di atas terdapat persamaan pengertian tentang jamur yaitu suatu tumbuhan yang tidak mempunyai zat hijau daun sehingga hidupnya bersifat heteretrof. Dan hidup memperoleh makanan pada tumbuhan lain.

Jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya untuk memperoleh makanannya. Setelah itu, menyimpannya dalam bentuk glikogen. Jamur merupakan konsumen, maka dari itu jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidratproteinvitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligatparasit fakultatif, atau saprofit.

Cara hidup jamur lainnya adalah melakukan simbiosis mutualisme. Jamur yang hidup bersimbiosis, selain menyerap makanan dari organisme lain juga menghasilkan zat tertentu yang bermanfaat bagi simbionnya. Simbiosis mutualisme jamur dengan tanaman dapat dilihat padamikoriza, yaitu jamur yang hidup di akar tanaman kacang-kacangan atau pada liken. Jamur berhabitat pada bermacammacam lingkungan dan berasosiasi dengan banyak organisme. Meskipun kebanyakan hidup di darat, beberapa jamur ada yang hidup di air dan berasosiasi dengan organisme air. Jamur yang hidup di air biasanya bersifat parasit atau saprofit, dan kebanyakan dari kelas Oomycetes.[4]

Dalam buku biologi SMA karangan Iman Santoso menjelaskan jamur adalah : Jumur merupakan organism bersel satu atau bersel banyak, tubuhnya eukarion dengan diding sel dari kitin ( kecuali pada Oomycotina) , tidak ber klorofil, memperoleh  nutrisi dengan menyerap, menyimpan makanannya dalam bentuk glikogen. Jamur memiliki keturunan diploid yang singkat ( kecuali Oomycotina)[5]

Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil suatu kesimpulan adalah jamau atau fungi adalh suatu tumbuhan yang bersel satu atau banyak yang hidup di tempat yang lembab atau berair, tidak mempunyai zat hijau daun dan memperoleh makanan dari makhluk hidup lain.

 

B.                Ciri-Ciri Jamur

Jamur merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan, dan reproduksinya.

 

1.      Struktur Tubuh

Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Ada jamur yang satu sel, misalnyo khamir, ada pula jamur yang multiseluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, contohnya jamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah.

Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Dinding ini menyelubungi membran plasma dan sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik. Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, adapula hifa yang tidak bersepta atau hifa senositik.

Struktur hifa senositik dihasilkan oleh pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma. Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami modifikasi menjadi haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat.

 

2.      Perolehan Makanan dan  Habitat Jamur

Semua jenis jamur bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak memangsa dan mencernakan makanan. Clntuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit. Untuk lebih jelas pada pembahasan berikut:

 

a.      Parasit obligat

Merupakan sifat jamur yang hanya dapat hidup pada inangnya, sedangkan di luar inangnya tidak dapat hidup. Misalnya, Pneumonia carinii (khamir yang menginfeksi paru-paru penderita AIDS).

 

b.      Parasit fakultatif

Adalah jamur yang bersifat parasit jika mendapatkan inang yang sesuai, tetapi bersifat saprofit jika tidak mendapatkan inang yang cocok.

c.       Saprofit

Merupakan jamur pelapuk dan pengubah susunan zat organik yang mati. Jamur saprofit menyerap makanannya dari organisme yang telah mati seperti kayu tumbang dan buah jatuh. Sebagian besar jamur
saprofit mengeluar-kan enzim hidrolase pada substrat makanan untuk mendekomposisi molekul kompleks menjadi molekul sederhana sehingga mudah diserap oleh hifa. Selain itu, hifa dapat juga langsung menyerap bahanbahan organik dalam bentuk sederhana yang dikeluarkan oleh inangnya.[6]

Cara hidup jamur lainnya adalah melakukan simbiosis mutualisme. Jamur yang hidup bersimbiosis, selain menyerap makanan dari organisme lain juga menghasilkan zat tertentu yang bermanfaat bagi simbionnya. Simbiosis mutualisme jamur dengan tanaman dapat dilihat pada mikoriza, yaitu jamur yang hidup di akar tanaman kacang-kacangan atau pada liken.

Jamur berhabitat pada bermacam-macam lingkungan dan berasosiasi dengan banyak organisme. Meskipun kebanyakan hidup di darat, beberapa jamur ada yang hidup di air dan berasosiasi dengan organisme air. Jamur yang hidup di air biasanya bersifat parasit atau saprofit, dan kebanyakan dari kelas Oomycetes.

 

3.      Pertumbuhan dan Reproduksi

Reproduksi jamur dapat secara seksual (generatif) dan aseksual (vegetatif). Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Spora jamur berbeda-beda bentuk dan ukurannya dan biasanya uniseluler, tetapi adapula yang multiseluler. Apabila kondisi habitat sesuai, jamur memperbanyak diri dengan memproduksi sejumlah besar spora aseksual. Spora aseksual dapat terbawa air atau angin. Bila mendapatkan tempat yang cocok, maka spora akan berkecambah dan tumbuh menjadi jamur dewasa.

Reproduksi secara seksual pada jamur melalui kontak gametangium dan konjugasi. Kontak gametangium mengakibatkan terjadinya singami, yaitu persatuan sel dari dua individu. Singami terjadi dalam dua tahap, tahap pertama adalah plasmogami (peleburan sitoplasma) dan tahap kedua adalah kariogami (peleburan inti). Setelah plasmogami terjadi, inti sel dari masing-masing induk bersatu tetapi tidak melebur dan membentuk dikarion. Pasangan inti dalam sel dikarion atau miselium akan membelah dalam waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun. Akhimya inti sel melebur membentuk sel diploid yang segera melakukan pembelahan meiosis.

 

 

4.      Peranan Jamur

Peranan jamur dalam kehidupan manusia sangat banyak, baik peran yang merugikan maupun yang menguntungkan. Jamur yang menguntungkan meliputi berbagai jenis antara lain sebagai berikut:

·         Volvariella volvacea (jamur merang) berguna sebagai bahan pangan berprotein tinggi.

·         Rhizopus dan Mucor berguna dalam industri bahan makanan, yaitu dalam pembuatan tempe dan oncom.

·         Khamir Saccharomyces berguna sebagai fermentor dalam industri keju, roti, dan bir.

·         Penicillium notatum berguna sebagai penghasil antibiotik.

·         Higroporus dan Lycoperdon perlatum berguna sebagai dekomposer.

Di samping peranan yang menguntungkan, beberapa jamur juga mempunyai peranan yang merugikan, antara lain sebagai berikut:

·         Phytium sebagai hama bibit tanaman yang menyebabkan penyakit rebah semai.

·         Phythophthora inf'estan menyebabkan penyakit pada daun tanaman kentang.

·         Saprolegnia sebagai parasit pada tubuh organisme air.

·         Albugo merupakan parasit pada tanaman pertanian.

·         Pneumonia carinii menyebabkan penyakit pneumonia pada paru-paru manusia.

·         Candida sp. penyebab keputihan dan sariawan pada manusia.[7]

 

C.                Klasifikasi Jamur

            Para ahli mikologi mengelompokan jamur kedalam  beberapa kelompok. Adapun kelompok tersebut adalah sebagai berikut :

1.    Myxomycotina (Jamur Lendir)

Myxomycotina merupakan jamur yang paling sederhana. Mempunyai 2 fase hidup, yaitu:

·         fase vegetatif (fase lendir) yang dapat bergerak seperti amuba, disebut  plasmodium.

·         fase tubuh buah

Reproduksi : secara vegetatif dengan spora, yaitu spora kembara yang disebut myxoflagelata.

Contoh spesies : Physarum polycephalum

2.    Oomycotina
Tubuhnya terdiri atas benang/hifa tidak bersekat, bercabang-cabang dan mengandung banyak inti.
Reproduksi:

·         Vegetatif : yang hidup di air dengan zoospora yang hidup di darat dengan sporangium dan konidia.

·         Generatif : bersatunya gamet jantan dan betina membentuk oospora yang selanjutnya tumbuh menjadi individu baru.
Contoh spesies:

a. Saprolegnia sp. hidup saprofit pada bangkai ikan, serangga
    darat maupun serangga air.

b. Phytophora infestans: penyebab penyakit busuk pada kentang.

3.    Zygomycotina

Tubuh multiseluler, habitat umumnya di darat sebagai saprofit. Hifa tidak bersekat.
Reproduksi:

·         Vegetatif: dengan spora.

·         Generatif: dengan konyugasi hifa (+) dengan hlifa (-) akan
menghasilkan zigospora yang nantinya akan tumbuh menjadi
individu baru.

Contoh spesies:

a. Mucor mucedo : biasa hidup di kotoran ternak dan roti.

b. Rhizopus oligosporus : jamur tempe.

 

4.        Ascomycotina
Tubuh ada yang uniseluler dan ada yang multiseluler. Ascomycotina, multiseluler, hifanya bersekat dan berinti banyak. Hidupnya: ada yang parasit, saprofit, ada yang bersimbiosis dengan ganggang membentuk Lichenes (Lumut kerak).

Reproduksi:

·         Vegetatif: pada jamur uniseluler membentuk tunas-tunas,
pada yang multiseluler membentuk spora dari konidia.

·         Generatif: Membentuk askus yang menghasilkan askospora.


Contoh spesies:

 

a.              Sacharomyces cerevisae: sehari-hari dikenal sebagai ragi. Berguna untuk membuat bir, roti maupun alkohol. Mampu mengubah glukosa menjadi alkohol dan CO2 dengan proses fermentasi.

b.             Neurospora sitophila: jamur oncom.

c.              Peniciliium notatum dan Penicillium chrysogenum penghasil antibiotika penisilin.

d.             Penicillium camemberti dan Penicillium roqueforti
berguna untuk mengharumkan keju.

e.              Aspergillus oryzae berguna untuk membuat sake dan kecap.

f.              Aspergillus wentii untuk membuat kecap

g.             Aspergillus flavus menghasilkan racun aflatoksin,  hidup pada biji-bijian. flatoksin salah satu penyebab kanker hati.

h.             Claviceps purpurea hidup sebagai parasit pada bakal buah Gramineae

5.        Basidiomycotina

Ciri khasnya alat repoduksi generatifnya berupa basidium sebagai
badan penghasil spora. Kebanyakan anggota spesies berukuran makroskopik.
Contoh spesies:

a.              Volvariella volvacea: jamur merang, dapat dimakan dan sudah dibudidayakan

b.             Auricularia polytricha: jamur kuping, dapat dimakan dan sudah dibudidayakan

c.              Exobasidium vexans: parasit pada pohon teh penyebab penyakit cacar daun teh atau blister blight.

d.             Amanita muscaria dan Amanita phalloides: jamur beracun, habitat di daerah subtropics

e.              Ustilago maydis : jamur api, parasit pada jagung.

f.              Puccinia graminis: jamur karat, parasit pada gandum

6. Deuteromycotin

Nama lainnya Fungi Imperfecti (jamur tidak sempurna) dinamakan demikian karena pada jamur ini belum diketahui dengan pasti cara pembiakan secara generatif.

Contoh : Jamur Oncom sebelum diketahui pembiakan generatifnya dinamakan Monilia sitophila tetapi setelah diketahui pembiakan generatifnya yang berupa askus namanya diganti menjadi Neurospora sitophila dimasukkan ke dalam Ascomycotina.

Banyak penyakit kulit karena jamur (dermatomikosis) disebabkan oleh jamur dari golongan ini, misalnya: Epidermophyton fluocosum penyebab penyakit kaki atlit, Microsporum sp., Trichophyton sp. penyebab penyakit kurap.[8]

 



[1] Adipedia, Ciri-ciri umum Jamur, (online)(2011)http://www.adipedia.com/2011/04/ciri-ciri-umum-jamur-dan-klasifikasi.html, diakses tanggal 11 Oktober 2011.

[2] Arman Sujana. Kamus Lengkap Boilogi, ( Jakarta. Mega Aksara, 2007.) hal. 381

 

[3] Wikipedia, jamur.(online)(2011)http://id.wikipedia.org/wiki/Jamur, diakses pada tanggal 11 Oktober 2011

[4] ibid

[5] Iman Santoso, Biologi Untuk SMA, ( Bekasi:Interplus,2007)hal. 96

[6] Gembong Tjitrosoepomo, Taksonomi Tumbuhan,(Yogyakarta:Gajah Mada University Press.2005) hal. 94

[7]  Istamar Syansuri, Biologi Untuk SMA (Malang ; Erlangga,2007) hal. 67

[8]Adipedia. Jamur Dan Klasifikasinya(online)(2011) http://www.adipedia.com/2011/04/ciri-ciri-umum-jamur-dan-klasifikasi.html.diakses tanggal 12 Oktober 2011